aku adalah jiwa yang mengetuk di pintu hatimu
tersudut di antara cahaya yang menyandra egoku
terkepung beribu mata memanja ke arahku
dan bibir jiwa yang ranum mulai mengecup keheningan di antaraku
terikat ke arah mimpiku
menjadikan mimpi itu semakin tinggi
hingga menjulang merobek cakrawala dari wajah-wajah langit yang murka
aku masih berdiri tersudut di depanmu
sejenak menjadi api
mencoba mencairkan beku di antara ruangmu
mencoba menerobos hancurkan benteng yang menghalang langkahku
namun enggan terbuka tempatmu
dan masih angkuh jiwamu di antara kebutuhanmu
terlalu picik fikiranmu menjabarkan tentang aku
tetap masih di depanmu
mencoba mengetuk lagi dan lagi
meksipun semakin tersudut namun mimpiku memaksa langkahku
perih menyesak di antara keheningan yang pekat
tak kau hiraukan rintihan batinku
namun tetap harus aku terima dengan ketidakberdayaanku
dan taukah kau jiwa yang angkuh
di antara musafir cinta
aku yang paling merindu di antara hening malammu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar