Rabu, 23 Februari 2011

Sad journey

Malam yg gelap bagai menyetubuhiku
anak-anak peri dunia yang gaib bagai mendandaniku
sayap-sayap selusin malaikat menjadi gaun terindahku
aku tersenyum kala ku dapati mata yg memandang ke arah ku
terbesit rasa kala jemari indahmu menyentuhku . .
Aku tlah terhanyut di antara jiwamu . .
Mengajakku bercinta di atas dermaga . .
Kau adalah angn yang mendesah lirih . .
Mengeluh dan merapuh . .

Kau adalah kaki-kaki hujan yang runcing . .

Menyentuh pangkal rambutku . .
Mengguyurku terus . .
Bgai akar yang tak pernah berhenti menggali . .
Makin dalam , di dalam kelam . .

Jari-jari yang mendekap bgai pisau tajam . .

Mencabik cabik angan ku . .
Mimpi yang berdebur-debur bgai ombak melahap darat . .

Kini rasa yang kerdil mulai bergema . .

Terhentuh lembut senyum mu . .
Terjamah ruang di dalam nya . .

Aku berenang di hati sunyi . .

Menyelam dalam sampai dasar hatiku . .
Tak ku temukan ruang untuk mimpiku . .
Perasaan ingin ku akhir . .
Dalam remuk hati sang pengembara . .

Ku minum darah dari hati yang merintih perih . .

Tangis yang panjang kini ku deraikan . .
Bagai tirai membelah masa . .
Kini jiwa menundukan akhir . .
Menanti senja membuka tabir khdupan ini . .
Menyambut kobar perjalan sedih ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar