Aku masih terjaga di fajar subuh
menatap dua bukit keangkuhan di balik seringan awan
msih tetap ku nikmati jiwamu yang membelai ranting-ranting mimpiku
dengan lembut mengecup puncak-puncak ketinggianku . .
dan merangkulku dengan sayap-sayapmu . .
masih tetap ku ikuti jejakmu . .
dan tetap berada di lingkaran sayapmu . .
menikmati kepedihan kemesraan yang terlalu dalam . .
merenungkan puncak-puncak getaran cinta . .
ketika mulai kau bawa aku terbang dengan sayap belatimu . .
dan tersentuh roh ku oleh matahari yang suci . .
aku akan bisikan pada sang petang . .
bahwa aku adalah dawai-dawai yang melantunkan lirih dari hati manusia . .
dan aku adalah telinga dan mata-mata jiwa yang tersakiti malam . .
aku adalah segumpal hati dari daging-daging jiwa yang malam curi dari keheningan . .
masih tetap menunggu di persimpangan waktu .
hingga kau tak bungkam . .
dan jelaskan tentang takdir yang ber'alur perih . .
dan tentang sentuhan lembut bagaimana jari-jari angin membelai bibir-bibir jiwa . .
hingga menyisakan nafas panjang dari tangis manis yang lirih . .
telah ku nyanyikan lagu cinta dalam malam yang datang dengan lantang . .
memekakan semua hening yang bisu dan tuli . .
namun nada-nada dalam dada ku menjadi sangat senyap . .
ketika lintasan-lintasan bintang mulai menyatu . .
membentuk setiap makna dari setiap musim yang liar ketika tersebar . .
dan aku terpaku . .
tutur kata menjadi gagu . .
menyaksikan lengkungan-lengkungan senyum tuhan yang tersungging
di antara bintang-bintang yang merangkul malam .. .
aku menikmati persembahan malam . .
yang mengantarkan ku pada hening pilu . .
membuatku terhanyut tenggelam di kedalaman malam . .
kekasihku adlah percikan bahagia dan murka tuhan
yang meninggalkanku di matahari petang . .
bersama golakan api suci yang menyentuh telapak kaki-kaki telanjangku . .
kekasihku adlah letih yang menggenangkan hatiku . .
mengunci di setiap sudut-sudut kamarku . .
masih melingkar di bulatan mimpiku . .
menghiasiku dengan jubah-jubahnya . .
dan melukaiku dengan belati yang tersembunyi di balik sayap-sayap tebalnya . .
kekasihku genangan harapanku . .
yang menjulang melambung tinggi di atas ubun-ubun ku . .
mengikat urat-urat mimpi dalam nadi kehidupanku . .
dan selubung-selubung benci yang menjadi merindu . .
kekaihku adlah letih-letih gairahku . .
titik kerapuhan yang mengayunkan bebanku . .
saat menari bersama kaki-kaki hujan yang runcing . .
dengan anak-anak peri gaib yang liar . .
memasuki setiap ladang-ladang tuhan . .
dan dengan ini aku menghela nafas dan merintih . .
karena kesedihan adalah aku . .
tetapi aku seorang pencinta . .
dan aroma cinta adalah kesadaran . .
yang membius roh-roh dalam penciuman . .
Aku mengangis . .
dan dewa tuhan tersenyum , ,
merayakan kemenangan lewat nyanyian malam ..
dan aku masih merintih . .
membenahi puing-puing yang mengotori sudut-sudut ruang . .
akibat bercak-bercaik darah yang mengotori perapihanku . .
dari belati yang kau persembahkan utukku . ..
dan kekasihku adlah mata-mata jiwa dalam ketidakpedulian . .
tanpa suka cita yang iba mengudang sanubariku . .
tanpa menutup air mata kegundahanku .
dari air mancur di bendungan kehidupanku . .
dan kau tetap membiarkanku dalam genangan ketidakpastian AKAN HADIR JIWA MU . .
dan masih dalam lingkaran cumbuanmu,sadar mengacaukan anganku,bahwa CINTA adlah peristirahatan terakhir setelah penjelajahan melelahkan dalam langkah ketidakpatianku . ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar