Rabu, 23 Februari 2011

'' ELEGI SILAM ''

ya . . .
Lentera merah itu padam ketika angin memeluk sumbu-sumbu hati sang lentera . .
Gelapppp padam . .
Hening dalam tatapan muram cuaca . .
Memandang marah saat tergeming . . .
Ya . . .
Lentera itu bukan lagi sang surya . .
Yang menyemburat api-api masa silam . .
Menari dalam elegi kenangan . .
Yang dulu ku tanam benihnya dalam hatimu . .
Yang ku tau tertindih elegi cinta mu akan dia . .

Cinta . .

Ku jamu hatiku sendiri dengan filosofi kehidupan . .
Yang meluaskan jiwa ku dalam antariksa duniaku . .
Agar aku tetap utuh dalam elegi ku sendiri . .

Cinta . .

Elegi 7 tahun silam kini tercium kembali aromanya . .
Ketika di beranda jalan-jalan pecundang kau memanggil hatiku . .
Menawar lagi asa ku yang ku tindih elegi baruku . .
Cinta . .
Elegi silam yang ku tanam rasaku tlah padam bersama lentera harapanku . .
Asa yang tertinggal tlah ku lupakan bersama nafasku . .
Cinta . .
Keterlambatanmu membuat aku ragu untuk menghidupkan kembali rasa yang lalu . .
Karna aku terlalu takut cintamu tak tertuju untuk ku . .
Seperti dulu dalam elegi silamku . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar