aku masih tetap berayun di kaki" malam
terdiam rasakan sentuhan jiwa yang sempat hilang
hilirku kemudian terbangunkan
dingin mengigil terguyur langit yng menangis
biru itu masih tetap indah ku lihat
malam itu masih tetap tenang ku rasakan
namun di sini dalm dada semakin menyesak
sakit yng lama mengabdi jadikan aku sebagai tuhan yng suci
tak ingin beranjak di dsar namun semakin melekat
menyayat hati yang setengah mati
kini aku tinggallah seonggoh daging yg bisu
terikat sakit yg setia dlm nadi
meski ragaku kokoh dalam setiap mata memandang
namun roh ini terikat sendiri oleh ribuan sakit yng mengabdi
jiwa yang mencumbu angan
kini hanya sebatas harpan dalam bimbang
tak ada suara yg riang tenangkan
meski simfoni indah ku teriakan
tetap batinku tak henti meratap
di antara sudut hati yng semakin merusak
aku tinggalalah jiwa yg terasingi
di antara makhluk tuhan yg berpesta kedamaian
di atas dermaga persinggahan
bagi jiwa" yg terpilih atas nama cinta dan kematian
aku hanya roh yang terikat sakit
terdekap di antara seribu sayap belati malaikat
terabaikan lirihku yang menjerit
bersama malam aku merintih sendiri dlm kehampaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar