Rabu, 23 Februari 2011

Suara kematian

Aqu masih tetap berkaca pda malam
berayun di bwah butiran kristal-kristal tuhan
yang membiaskan warna-warni dalam lengkungan pelangi
terjamah mata ribuan pemuja hujan

aku adalah rasa yg kerdil kemudian murka

perak hatiku terbungkus kelam malam malaikat
menari bersama roh-roh kematian
yang berbisik sinis pda dawai-dawai hitam

tercium bau ajal dari balik kaca-kaca kerapuhan

yang berayun manja di kaki-kaki kenangan . .
Bernyanyi lagu bahagia di atas altar darah . .
Yang mengguyur kaki-kaki gaib yg transparan

masih terikat nadiku oleh mata-mata tuhan

yang mengikat urat di dalam bayang malam
pilu trasa dalam angan
yang menjerit kecil ketika mencumbu ajal . .

Desah yg terpekik tangan2 yang runcing

berhilir lirih mengigil asa
getir yg bercucur perih menggetarkan dilema

kekasihku adalah suara kematian

yang membwaku pda dkap tuhan
terhanyut di samudra langit yang dalam
semakin dalam di dlm klam

kekashku adalh byang nyata dlm ilusi

yang membwaku pda sayap-sayap kenangan . .
Semakin gugur dan terlupakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar