Rabu, 23 Februari 2011

"nyanyian hujan"

lirih kerapuhanku memanja di antara kaca-kaca kemelut sanubari
beringsut ke arah perapihan seperti sepotong senja mengangkat kaki dan leyap tenggelam pergi
seperti aku yang tengah berpilin di atas tempat tidur dan memandang bagaimana tuhan menangis karena aku terluka .
dan mengalirkan air suci di balik cakrawala melintasi nirwana tertinggi dimana kebahagiaan abadi tersembunyi .
kini waktu semakin singkat ku rasa di antara kata dan syair yang panjang ketika malam menjabarkan tentang kau kekasihku . .
dan alurnya seperti perih yang bersimfoni keheningan,terasa ketika gemercik air hujan menyentuh muka malam . .
menemani ketika aku menelusuri sepanjang cahaya malam di antara jalan-jalan pecundang ketika aku di tinggalkan .

kini nyanyian hujan adalah simbol kegagalanku,ketika aku berikan penuh secangkir kepercayaan di antara jemari-jemari lukaku . .

untuk aku persembahkan di antara hatimu . .
namun kasih kau torehkan benih-benih luka untuk menjadi sekokoh belati penderitaan yang akan tumbuh di jiwa ku
tanpa kau pedulikan betapa deras air yang mengalir di antara pipiku .
sedetikpun tak kau hiraukan untuk senyumku .

dan saat ini aku tlah bercumbu dengan perihku

berperang dengan waktu yang menghakimi perasaanku
dan mendapati kembali kemerdekaanku seperti yang lalu ketika aku tersenyum lepas dengan tanpa adanya kau kekasihku
namun nyata aku hanya kosong di antara ruangku yang terpenuhi karenamu
hingga mengalahkan beribu debu yang mengotori hari ku
kau seperti itu kekasihku
terlalu kuat bayangmu terlukis dalam kanvas jiwa ku
sejauh apapun ku bawa raga untuk tak menatapmu dan sedalam apapun ku tenggelamkan hatiku darimu kau tetap takan pernah terganti .

seperti nyanyian hujan yang membawamu tinggal di hati ini .

seperti sepotong senja yang memikatkan parasmu dalam ilusi ini .
dan seperti secangkir kehangatan mentari yang mengikat kerinduan ini

kau nyanyian hujan dalam simfoni penderitaan abadi .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar