Aku masih berayun di bawah lonceng-lonceng cemara
Memandang dua bukit tertinggi di antara dundukan awan hitam
Yang bersembunyi di balik embun-embun pagi
Kini ku rasa pagi begitu ramah menyapa
Menebarkan kehangatan bagi jiwa-jiwa yang nakal
Di atas perapihan tempat tidurnya
Membelai dengan wangi-wangian pagi
Untuk memanjakan waktu-waktu yang letih terpakai
Ketia para jiwa mulai mencari daging-daging hidup dan memangsanya
Kemudaian menjadikannya berhala untuk mereka pandangi ketika waktu senggang
Kini matahari suci telah meninggikan raganya
Menghidupkan kembali birahi-birahi dari roh-roh yang mati
Dan kehangatannya menggetarkan setiap jiwa yang sedang mencumbu para dawai-dawai tuhan
Memasuki kedalaman pesonanya
Dan mulai memanjakan setiap hasrat-hasrat yang murka
Sama seperti aku keaksihku
Yang tersentuh bayangmu
Menari bersama rohmu
Kemudian menyanyikan lagu kebahagiaan bersama anak-anak peri yang gaib
Dan rasakan wangi aroma rumput gersang bagai membelai panca indraku
Menghanyutkanku di kedalaman jiwamu
Menyaksikan bersama ketika bola matahari kian beringsut dari porosnya
Menghitamkan pori-pori dari gumpalan-gumpalan awan
Yang membuat dunia menjadi belahan bagian timur
Bagai mengantarkan senja di tempat peristirahatannya
Dan ku sandarkan hatiku di antara dekap bayangmu kekasihku
Berharap ruangmu terbuka untuk lelahku
Cumbui aku kekasihku
Karena kau telah menggolakan kembali birahi-biarahi dari hasrat yang mati
Kemudian mari kita menatap bersama bagaimana keindahan sang aurora di belahan kutub utara
Dan mari kita mulai melukis tentang cerita cinta kita ketika kita masih bersama-sama hingga saat ini
Meskipun ragamu telah ada di antara malaikat-malaikat kematian
Dan hanya tinggal seoonggoh kenangan yang menyisa di antara waktu yang ku tau
Kemudian sesekali ku putar rekaman cerita bahagia kita
Dengan simfoni-simfoni dari bulir-bulir kenangan yang tersisa dalm nostalgia kita , ,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar